Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini pemilik blog ini bukanlah ahli IT hanya seorang D3 FT dan S1 Kesmas

PRAJURIT KOPASSUS TERJUN PAYUNG DALAM RANGKA HUT SULTRA 2013

Posted by Fisio Usman Senin, 29 April 2013 0 comments
Peringatan Hut Sultra Ke- 49 Tahun 2013 kali ini lain dari yang biasanya, kalau tahun sebelumnya hanya diperingati sebatas Seremonial saja, seperti Pameran, Pentas hiburan, namun kali ini memasuki usia yang ke-49 Halo Sultra yang bertemakan "HALO SULTRA MASA DEPAN INDONESIA" diperingati secara mewah kenapa baru kali ini peringatan Hut Sultra dimeriahkan oleh Kegiatan Terjun Payung Oleh pasukan KOPASSUS dan langsung diahdiri oleh DANJEN KOPASSUS. Sungguh kegiatan yang langka yang pernah dilaksanakan oleh Gubernur Se-Indonesia ini. DIRGAHAYU SULTRA KE-49 SEMOGA  MENJADI MASA DEPAN  INDONESIA.


Baca Selengkapnya ....

Cara membuat border pada halaman postingan

Posted by Fisio Usman Kamis, 07 Februari 2013 0 comments

Hai kali ini saya bukan bermaksud mengajar ikan berenang, tetapi kebetulan secara tidak sengaja saya menemukan artikel yang ditulis seorang blogger di http://infodariom.blogspot.com/2013/01/cara-membuat-border-radius-pada-gambar.html. menurut saya sangat keren dan gampang menerapkan pada blog kita.  coba kita bayangkan jika tampilan template blog kita kurang menarik alias bowring alias bete, alias bosan apalagi ya....

Nah, cukup komentarya langsung aja kita praktekkan :

1. Masuk ke Halaman Dashboard 

2. Pilih Template,  Pilih Edit HTML, jangan lupa centang expand widget, biar aman.

3. Cari kode ]]>

tepat di atasnya letakkan kode berikut :

.post-body img { padding:15px; /* jarak */ background:#FFF; /* background warna putih */ -moz-transition: all 1s; -webkit-transition: all 1s; -o-transition: all 1s; } .post-body img:hover { border-radius: 0% 50%; /*Border Radius saat hover */ box-shadow: 0px 0px 15px #000; /* Bayangan saat hover */ -moz-transition: all 1s; -webkit-transition: all 1s; -o-transition: all 1s; cursor:pointer; }

4. tekan Preview sebelumnya. nah kalo udah ok. save template.

terima kasih



Baca Selengkapnya ....

Fisioterapi Pada Kasus CP

Posted by Fisio Usman Senin, 07 Januari 2013 0 comments


MANAJEMEN FISIOTERAPI PADA KASUS CEREBRAL PALSY
Sumber : http://zahstraces.blogspot.com/2012/05/
Setelah seharian saya mencoba mencari artikel tentang kasus pediatrik, akhirnya saya menemukan pada salah satu posting milik saudara blogger di http://zahstraces.blogspot.com, mudah-mudahan aja aprosertikel ini bisa memberikan sedikit pencerahan tentang apa dan bagaimana kasus CP itu dan yang paling penting adalah bagaimana tindakan fisioterapis pada kasus seperti ini. artikel ini dikemas dalam lingkup pembahasan sebagai berikut :
1. Definisi CP
2. Etiologi dan Faktor Resiko
3. Patofisiologi
4. Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Medis
5. Diagnosa
6. Penatalaksanaan Fisioterapi
7. Pustaka


DEFINISI DAN KLASIFIKASI CP
Definisi yang dipakai secara luas adalah definisi menurut Bax dimana dikatakan bahwa: Palsi serebralis adalah suatu kelainan gerakan dan  postur yang tidak progresif, oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral tersebut bersifat statis dan tidak progresif, tetapi tanda-tanda perkembangan neuron perifer akan berubah akibat dari maturasi sesuai dengan bertambahnya umur anak.1

Menurut American Academy of Cerebral palsy (AACP) dalam Viola E. Cardwell, bahwa CP adalah berbagai perubahan yang abnormal pada organ gerak atau fungsi motor sebagai akibat dari adanya kerusakan/cacat , luka atau penyakit pada jaringan yang ada di dalam rongga tengkorak.
Klasifikasi CP bermacam-macam, tergatung berdasarkan apa klasifikasi tersebut dibuat. , CP dibagi menjadi 4 kelompok besar yaitu 6:




1.    Spastik
 Spastik berarti kekakuan pada otot. Hal ini terjadi ketika kerusakan otak terjadi pada bagian korteks cerebral atau pada traktus piramidalis. Tipe ini merupakan tipe CP yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 70 – 80 % dari penderita. Pada penderita tipe spastik terjadi peningkatan tonus otot (hipertonus), hiperefleks dan keterbatasan ROM sendi akibat adanya kekakuan. Selain itu juga dapat mempengaruhi lidah, mulut dan faring sehingga menyebabkan gangguan berbicara, makan, bernapas dan menelan. Jika terus dibiarkan pederita CP dapat mengalami dislokasi hip, skoliosis dan deformitas anggota badan. Tipe spastik dapat diklasifikasikan berdasarkan topografinya, yaitu :
a.             Monoplegia
 Pada monoplegia, hanya satu ekstremitas saja yang mengalami spastik. Umumnya hal ini terjadi pada lengan / ekstremitas atas.
b.            Diplegia
 Spastik diplegia atau uncomplicated diplegia pada prematuritas. Hal ini disebabkan oleh spastik yang menyerang traktus kortikospinal bilateral atau lengan pada kedua sisi tubuh saja. Sedangkan sistem–sistem lain normal.
c.   Hemiplegia
Spastis yang melibatkan traktus kortikospinal unilateral yang biasanya menyerang ekstremitas atas/lengan atau menyerang lengan pada salah satu sisi tubuh.
 d.   Triplegia
Spastik pada triplegia menyerang tiga buah ekstremitas. Umumnya menyerang lengan pada kedua sisi tubuh dan salah satu kaki pada salah salah satu sisi tubuh.
  e.   Quadriplegia
Spastis yang tidak hanya menyerang ekstremitas atas, tetapi juga ekstremitas bawah dan juga terjadi keterbatasan pada tungkai.
2. Diskinetik
 Merupakan tipe CP dengan otot lengan, tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan, menggeliat dan tak terkendali, tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk, gerakan akan menghilang jika anak tidur.  Tipe ini dapat ditemukan pada 10 – 15 % kasus CP. Terdiri atas 2 tipe, yaitu :
 a.   Distonik
Gerakan yang dihasilkan lambat dan berulang–ulang sehingga menyebabkan gerakan   melilit atau meliuk-liuk dan postur yang abnormal
b.   Atetosis
        Menghasilkan gerakan tambahan yang tidak dapat dikontrol, khususnya pada lengan, tangan dan   kaki serta disekitar mulut.
3. Ataksia
           Pada tipe ini terjadi kerusakan pada cerebellum sehingga mempengaruhi koordinasi gerakan, keseimbangan dan gangguan postur . Tipe ini merupakan tipe CP yang paling sedikit ditemukan yaitu sekitar 5 – 10 % dari penderita. Pada penderita tipe ataxia terjadi penurunan tonus otot (hipotonus), tremor, cara berjalan yang lebar akibat gangguan keseimbangan serta kontrol gerak motorik halus yang buruk karena lemahnya koordinasi.
4. Campuran
Merupakan tipe CP yang merupakan gabungan dari dua tipe CP. Gabungan yang paling sering terjadi adalah antara spastic dan athetoid.
Berdasarkan derajat keparahan fungsional, berat ringannya kecacatan penderita CP dibagi menjadi 2:
1.  C.P. ringan (10%), masih bisa melakukan pekerjaan / aktifitas sehari hari sehingga tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.
2.  C.P. Sedang (30%), aktifitas sangat terbatas sekali sehingga membutuhkan bermacam bentuk bantuan pendidikan, fisioterapi, alat brace dan lain lain.
3.  C.P. Berat (60%), penderita sama sekali tidak bisa melkaukan aktifitas fisik. Pada penderita ini sedikit sekali menunjukan kegunaan fisioterapi ataupun pendidikan yang diberikan. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam rumah perawatan khusus.
 

      ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO CP
CP dapat disebabkan oleh factor genetic ataupun factor lainnya. Apabila diketemukan lebih dari satu anak yang menderita kelainan ini, maka kemungkinan besar merupakan factor genetic1. Sedangkan hal-hal lainnya yang diperkirakan sebagai penyebab CP adalah sebagai berikut:7
      1. Pranatal (sebelum lahir)
         a.   Infeksi intrauterine; penyakit infeksi yang diderita oleh ibu menular ke janin seperti penyakit   kelamin, herpes zoster , campak.
                 b.   Penyakit system metabolic seperti diabetes mellitus
                 c.   Perbedaan rhesus darah antara ibu dan anak
                d.   Kebiasan-kebiasaan ibu, alkoholik, perokok, kekurangan gizi, atau pecandu obat-obat tertentu
                 e.   Penyakit keturunan
                f.   Letak janin tidak nor tmal akibat trauma
                 g.   Penyebab tanpa diketahui (±30%)
      2. Perinatal (saat dilahirkan)
                 a.   Anoksia/hipoksia, bayi lama dipintu sehingga sel-sel otak rusak karena kekurangan oksigen.
                 b.   Trauma kelahiran
                 c.   Prematuritas
                 d.   Postmaturitas
                 e.   Bayi menderita sakit kuning
      3.     Postnatal (setelah lahir)
                a.   Infeksi otak seperti meningitis
                b.   Demam sangat tinggi atau kekurangan cairan (dehidrasi)
                c.   Trauma capitis
                d.   Kekurangan oksigen karena tenggelam, keracunan gas, pestisida
                e.   Tumor otak
                f.   Gangguan metabolisme ke otak, misalnya insulin meninggi
                g.   Perdarahan di otak tanpa diketahui penyebabnya

         PATOFISIOLOGI CP
Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu induksi dorsal yang terjadi pada minggu ke 3- 4 masa gestasi dan induksi ventral, berlangsung pada minggu ke 5-6 masa gestasi. Setiap gangguan pada masa ini bisa meng- akibatkan terjadinya kelainan kongenital seperti kranioskisis totalis, anensefali, hidrosefalus dan lain sebagainya. Fase selanjutnya terjadi proliferasi neuron, yang terjadi pada masa gestasi bulan ke 2-4. Gangguan pada fase ini bisa mengakibatkan mikrosefali, makrosefali. Stadium selanjutnya yaitu stadium migrasi yang terjadi pada masa gestasi bulan 3-5. Migrasi terjadi melalui dua cara yaitu secara radial, sd berdiferensiasi dan daerah periventnikuler dan subventrikuler ke lapisan sebelah dalam koerteks serebri; sedangkan migrasi secara tangensial sd berdiferensiasi dan zone germinal menuju ke permukaan korteks serebri. Gangguan pada masa ini bisa mengakibatkan kelainan kongenital seperti polimikrogiri, agenesis korpus kalosum.2
Stadium organisasi terjadi pada masa gestasi bulan ke 6 sampai beberapa tahun pascanatal. Gangguan pada stadium ini akan mengakibatkan translokasi genetik, gangguan metabolisme. Stadium mielinisasi terjadi pada saat lahir sampai beberapa tahun pasca natal. Pada stadium ini terjadi proliferasi sd neuron, dan pembentukan selubung mialin. Kelainan neuropatologik yang terjadi tergantung pada berat dan ringannya kerusakan Jadi kelainan neuropatologik yang terjadi sangat kompleks dan difus yang bisa mengenai korteks motorik traktus piramidalis daerah paraventnkuler ganglia basalis, batang otak dan serebelum. Anoksia serebri sering merupakan komplikasi perdarahan intraventrikuler dan subependim Asfiksia perinatal sering berkombinasi dengan iskemi yang bisa menyebabkan nekrosis.2

    GAMBARAN KLINIS CP
Gambaran klinis CP tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan:2
1.      Paralisis: Dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia, monoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid, spastik atau campuran.
2.      Gerakan involunter: Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.
3.      Ataksia: Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.
4.      Kejang: Dapat bersifat umum atau fokal.
5.      Gangguan perkembangan mental: Retardalasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikem bangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.
6.      Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.
7.      Problem emosional terutama pada saat remaja

       DIAGNOSIS CP
Untuk menetapkan  diagnosis diperlukan beberapa kali pemeriksaan, dengan anamnesis yang cermat dan pengamatan yang cukup, agar dapat menyingkirkan penyakit atau sindrom lain yang mirip dengan CP. Walaupun pada CP kelainan gerak motorik dan postur merupakan cirri yang utama, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa sering juga disertai dengan gangguan bukan motorik, seperti retardasi mental, kejang-kejang, gangguan psikologis dan lainnya.1
Pada umumnya diagnosis pada anak di bawah umur 6 bulan adalah sulit. Hal ini disebabkan pada umur di bawah 6 bulan tidak banyak “milestone” perkembangan baru. Padahal dengan diagnosis dini dan penanganan yang dini puka, maka prognosisnya jauh lebih baik. Oleh karena itu untuk memudahkan diagnosis maka Levine, membagi kelainan motorik pada CP menjadi 6 kategori yaitu:
1.      Pola gerak dan postur
2.      Pola gerak oral
3.      Strabismus
4.      Tonus otot
5.      Evolusi reaksi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal
6.      Reflex tendon, primitive dan plantar.
Kriteria ini dapat secara nyata membedakan antara penderita CP dengan yang bukan. Diagnosis dapat ditegakkan apabila minimal terdapat 4 kelainan pada 6 kategori motorik tersebut dan disertai dengan proses penyakit yang tidak progresif.1

      PENATALAKSANAAN MEDIS

Perawatan pada anak CP memerlukan pengertian dan kerja sama yang baik dari pihak orang tua/keluarga penderita. Hal ini akan tercapai dengan baik jika diorganisasi terpadu pada satu pusat klinik khusus. Cerebral palsy yang dikelola tenaga tenaga dari pelbagai multidisipliner.1, 2
1.      Obat obatan :
a.       Obat anti spastisitas
Biasanya indikasi pembarian obat obatan anti spastisitas pada penderita C.P. karena : Spastisitas penderita sangat hebat yang disertai rasa nyeri sehingga mengganggu program rehabilitasi, keadaan hiperefleksi yang sangat mengganggu fungsi motorik (misalnya: ada klonus kaki yang hebat), kontraksi fleksi pada tungkai yang progresif, dan spasitisitas penderita yang mempersulit perawatan.
b.      Obat psikotropik
c.       Antikonvulsan
2.      Tindakan ortopedi
Salah satu indikasi dilakukan tindakan ortopedi jika sudah terjadi deformitas akibat proses spasme otot atau telah terjadi kontraktur pada otot dan tendon. Dalam hal ini harus dipertimbangkan secara matang beberapa factor sebelum melakukan tindakan bedah.
3.      Fisioterapi
4.      Terapi wicara
5.      Terapi okupasi
6.      Ortotik prostetik1,2
Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya, tidak bisa terjadi pada CP. Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan, sedangkan bertambah berat apabila disertai dengan retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran.

    PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI

Prinsip program fisioterapi CP yaitu:7
1.   Mengurangi (memblok) tonus, postur, keseimbangan dan gerakan yang tidak normal dengan cara membangkitkan postur yang normal (Reflex Inhibitory Posture/RIP)
2.   Mempermudah munculnya tonus otot, postur, keseimbangan dan gerakan yang normal melalui penanganan yang benar (Reflex Inhibitory Movement/ RIM).
3.   Mendidik kembali fungsi sensomotorik dengan jalan penderita diminta merasakan tonus , postur, keseimbangan dan gerakan yang tidak normal atau dilatih dengan memposisikan tubuh pada posisi yang kita anggap benar berulang-ulang kali (Fascilitation).
4.   Mengevaluasi langsung dari respon pasien untuk melihat seberapa besar perkembangan proses kemandirian anak CP.

Hal-hal yang harus diperhatikan saat melatih anak CP antara lain:6
1.   Tidak menimbulkan nyeri atau rasa takut dengan menggunakan tenaga yang berlebihan. Harus diregangkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati.
2.   Tidak menggerakkan sendi kian kemari seperti memompa, hal ini akan mempercepat peregangan yang meningkatkan kekakuan pada otot yang spastik.
3.   Tidak melakukan peregangan jika saat gerakan tiba-tiba menjadi kaku atau tidak terkontrol. Tunggu sampai otot-otot rileks seperti semula.
4.   Tidak meregangkan sendi secara berlebihan.

Tahapan teknik dasar latihan gerak pada anak CP terdiri dari 4 tahapan yaitu sebagai berikut:7
1.   Tahap I, merupakan latihan mengontrol kepala dan tangan.
Latihan mengontrol kepala dan tangan sangat penting sebagai tahap awal dari latihan selanjutnya. Mengangkat dan menahan kepala serta badan melalui penumpuan tangan berguna untuk persiapan berguling, merangkak dan duduk.
2.   Tahap II, merupakan latihan mengontrol badan untuk duduk
Pada tahap ini, anak diajarkan untuk mempertahankan badannya tetap tegak sewaktu ia bergerak dari dan hendak bersandar pada tangannya. Posisi duduk akan membuat sang anak mampu melihat kedua tangannya dan mempergunakannya. Tujuan latihan pada tahap ini yaitu agar anak anak dapat beraktivitas ke segala arah pada saat duduk, mempersiapkan diri untuk berdiri dan jongkok dari posisi duduk, dan beraktivitas dari posisi duduk ke merangkak.
3.   Tahap III, merupakan latihan untuk mengontrol tungkai untuk berdiri dan berjalan. Tujuan yang ingin dicapai pada tahap ini yaitu agar anak dapat mempersiapkan tungkainya dari duduk berlutut untuk selanjutnya berdiri.
4. Tahap IV, merupakan informasi umum untuk keluarga, yaitu dengan menginformasikan  kepada keluarga untuk senantiasa melatih anak dengan teratur dan penuh kasih saying agar anak lebih cepat mandiri. Keluarga atau orang tua diajarkan untuk menggerakkan sendi secara penuh setiap hari sekitar 3 kali per sendi tanpa disertai dengan gerakan paksaan. Hal ini untuk memelihara jarak gerak sendi anak dan untuk mencegah kekakuan.


DAFTAR PUSTAKA
.
1.      Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2.      Kurniadi, Adi. 2012. Cerebral Palsy. Makalah tidak diterbitkan. Departemen Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.      Wahyudi, Nurma. 2008. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Cerebral Palsy Spastic Diplegi Dengan Terapi Latihan Metode Bobath Di YPAC Surakarta. KTI tidak diterbitkan. Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4.      Adnyana, I Made Oka. 1995. Tinjauan Kepustakaan: Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologis. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran No 104.
5.      Buranda, Theopilus. dkk. 2008. Anatomi Umum. Makassar: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
6.      Pratiwi, Gusti. 2011. Karakteristik Penderita Cerebral Palsy yang mendapatkan pelayanan Fisioterapi di Makassar. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
7.            Tim Penyusun. 2002. Modul1 :Tumbuh Kembang Anak Normal Sebagai Tolok Ukur Kemampuan Gerak Anak CP.  Pemda Provinsi Sul-Sel Dinas Kesehatan.


Baca Selengkapnya ....

Bobath Exercise

Posted by Fisio Usman Senin, 24 Desember 2012 0 comments
Bagi seorang fisioterapis metode Bobath merupakan hal yang cukup familiar alias tidak asing lagi, sadar atau tidak metode ini sangat membantu seorang fisioterapis dalam penatalaksanaan pasien dengan kondisi tertentu. kenapa saya menampilkan kembali artikel ini,  bukan karena saya menguasainya tetapi lebih kepada saya ingin belajar kembali tentang apa yang disebut dengan Bobath Exercise. lebih -lebih ketika saya sedang menemukan pasien dengan kondisi yang memungkinkan untuk diberikan latihan ini.  So mohon masukan jika artikel ini sudah out update. terima kasih




BOBATH EXERCISE
(By. Terapi Latihan yang  disusun oleh : Suharto, RPT Tahun 2000)
1.   PENDAHULUAN
Tehnik Bobath pertama kali ditemukan oleh Bertha Bobath, seorang fisioterapis. Metode ini juga dikenal dengan sebutan “ NDT” Neoro Developmental Treatment”. Tehink ini sering dignakan pada kasus-kasus gangguan motorik dan keseimbangan akibat post trauma cerebri dan post immobilisasi lama.  Dalam pertumbuhan dan perkembangan motorik dikenal dua terminology, yatu keterlambatan perkembangan motorik atau motor delay dan kelainan motorik (motorik disorder). Keterlambatan perkembangan motorik  dapat disebabkan oleh kurangnya stimulasi, social emosi, malnutrisi syndrom down dan microsefalus dan sebagainya.
Dalam metode ini, factor yang sangat penting adalah righting rection dan equilibrium reaction yaitu penggunaan pola perkembangan motoris yang normal.
2.   PRINSIF DASAR METODE BOBATH
      a.      Inhibisi.
         Inhibisi atau menghambat. Yaitu menghambat pola gerak abnormal atau sikap tubuh abnormal. Tekniknya disebut juga RIP (Refleks Inhibiting Postur). Dengan mengatur posisi penderita kita dapat menghambat aktifitas reflex abnormal tertentu, misalnya untuk menghambat spastisitas ekstensor , kita mengatur posisi anak  dalam posisi fleksi.
b.     Fasilitasi.
         Teknik  ini kita kenal sangat banyak, namun pada saat ini, kita contohkan adalah memberikan posisi dan gerakan normal.
c.      Stimulasi.
         Dari namanya berarti menstimulir atau merangsang daerah tertentu untuk mendapatkan reaksi atau respon dari penderita.  Teknik ini biasanya diberikan pada keadaan placid/hypotonus. Tekniknya dapat berupa kompressi, tapping, atau stroking. Dalam beberapa kasus sering juga diberikan goresan-goresan batu es. Dalam perkembangannya ketiga teknik tersebut dapat dikombinasikan.
d.     Key Point Of Control (KPOC)
         KPOC adalah tempat –tempat tertentu yang paling efektif untuk memberikan inhibisi, fasilitasi dan stimulasi. Biasanya sendi proximal, seperti panggul, bahu dan sebagainya. Meskipun yang lain juga dapat diberikan KPOC.

3.   PEMBAHASAN
      Pada Metode Bobath ada beberapa jenis gerakan yang dapat diberikan antara lain:
      1)     Reaksi mengangkat/menegakkan.
      2)     Reaksi keseimbangan.
         Namun untuk postingan kali ini, penulis hanya akan membahas reaksi mengangkat/menegakkan. Karena pada tahap ini saja sangat banyak gerakan yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu postingan berikutnya kita akan melanjutkan dengan Reaksi keseimbangan.

1.      REAKSI MENGANGKAT/MENEGAKKAN.
 Yakni reaksi yang pertama kali muncul sejak lahir pada usia 10 - 12 bulan. Righting reaction terdiri dari :
a.         Neck Righting reaction.
Dengan memutar kepala secara aktif atau pasif ke salah satu sisi, dalam posisi terlentang, maka akan terjadi rotasi seluruh tubuh ke sisi yang sama. Dengan gerakan ini diharapkan anak dapat melakukan gerakan miring atau rolling secara mandiri.

b.         Labirithine reaction.
Reaksi yang terjadi adalah menegakkan kepala dalam posisi telungkup. Reaksi ini mula-mula lemah dan makin lama makin kuat, sehingga anak-anak dapat mengangkat kepala mereka sehingga muka vertical dan mulut horizontal. Reaksi ini timbul pada usia 1 – 6 bulan.

c.          Reaksi vertibular
Reaksi ini timbul pada saat anak terlentang yakni dengan mengangkat kepala, sehingga dengan reaksi ini anak dapat mempertahankan kepalanya pada waktu diangkat ke posisi duduk.

d.         Body righting reaction.
         Reaksi ini berkaitan dengan labirithine righting reaction, yang berguna untuk mengatur posisi kepala di udara. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan menyentuhkan kaki ke lantai, akan diikuti dengan tegaknya kepala.

e.         Body Rigting reaction.
Reaksi ini terdapat pada usia 6 – 8 bulan. Merupakan modifikasi dari Neck Righting reaction. Dengan memutar kepala ke samping diikuti oleh rotasi bahu, kemudian dikuti oleh pelvic atau sebaliknya. Dengan reaksi ini memungkinkan anak dapat membalikkan badan dari posisi tengkurap ke posisi terlentang.

f.          Optikal righting reaction
         Gerakan yang terakhir untuk righting reaction adalah Optikal righting reaction, yakni mulai timbul setelah 6 bulan dan akan terus meningkat sejalan usia. Penglihatn sangat berperan dalam mengatur posisi kepala dan tubuh.

Baca Selengkapnya ....

CARA MENDOWLOAD DARI YOU TUBE DENGAN MUDAH

Posted by Fisio Usman Selasa, 24 Juli 2012 0 comments

Anda tentunya sudah familiar dengan yang namanya youtube apalagi bagi anda yang senang liat-liat film sexy, video unduhan menarik, video klip dll yang biasanya berextensi MP4, 3GP, FLV, MPEG dan HD. Selanjutnya anda pasti ingin mendownload gambar/video tersebut pastinya, tetapi mendownload gambar/video dari youtube tidak segampang itu terkadang kita diminta untuk registrasi atau harus memiliki account youtube sendiri sebagai chanel pribadi, ribeeeet kan..
Pertanyaannya adalah ;
Bagaimana caranya agar tidak RIBEEEET…
Anda sudah pasti menggunakan MOZILLA FIREFOX ya gak. Makanya cara ini kita kasi judul CARA MENDOWNLOAD GAMBAR/VIDEO DARI YOU TUBE  MENGGUNAKAN FASILITAS ADDS ONS PADA   MOZILLA .
CARA INI SAYA KUTIP DARI POSTINGAN BLOG MILIK SENIOR di  http://infongenet.blogspot.com. Karena cara ini saya fikir menarik dan mungkin diantara kita belum pernah ada yang mencobanya, So let, do it…

Baca Selengkapnya ....
Trik SEO Terbaru support Online Shop Baju Wanita - Original design by Bamz | Copyright of BLOG PRIBADI DAN FISIOTERAPI.